Laman

Senin, 24 Agustus 2015

Lomba 2: Penulisan Seputar HUT ke-70 Kemerdekaan RI

Beberapa hari sebelum hari kemerdekaan Indonesia, saya dan teman saya sempat membeli kerupuk pasir yang dijual oleh seorang bapak yang umurnya mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Dari jauh bapak itu terlihat biasa dengan tongkat di tangannya. Ketika kami mendekat untuk membeli, ternyata bapak itu sudah kehilangan fungsi kedua matanya untuk melihat. Hal yang paling saya khawatirkan adalah bagaimana ia bisa berjualan dengan kondisi yang seperti itu. Waktu itu, harga 1 plastik kerupuk adalah Rp.3000, dan saat teman saya ingin membayar, bapak itu bilang, "Masukkan saja uangnya ke tas saya, dan ambil kembaliannya jika lebih". Yang saya pikirkan adalah bagaimana si bapak itu bisa begitu percaya terhadap
setiap pembeli. Namun saya tidak menanyakan hal itu kepada beliau, beberapa hari kemudian, saya melihat beberapa postingan di facebook mengenai bapak penjual kerupuk tersebut, saya terharu melihat apa yang beliau lakukan. Seorang bapak tua yang buta, memiliki kepercayaan yang lebih besar terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya, dibanding dengan saya yang banyak meragukan nikmat yang diberikan Allah SWT. Dalam hal ini, kita sebagai bangsa yang telah merdeka selama 70 tahun tidak seharusnya untuk selalu mengeluh terhadap kondisi bangsa Indonesia. Sebuah keluhan akan menjadi baik jika diiringi dengan kritik perubahan, bukan sekadar keluhan tanpa tindakan. Seperti bapak tukang kerupuk yang selalu percaya terhadap pembelinya, kita dan pemerintah pun harus saling memercayai, masyarakat percaya kepada pengelolaan pajak oleh pemerintah, dan pemerintah memegang kepercayaan masyarakat dengan menyejahterakan rakyat. Karena bangsa ini tidak akan maju jika kita saling melempar kesalahan. Bangsa yang besar, tidak lahir dari orang-orang yang mengeluhkan kondisi bangsanya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar